UX Narsis: Mirror, mirror on the wall

Ringkasan: Banyak sekali tulisan dan talkshow tidak bermutu di dunia maya mengenai UX. Apakah mungkin hal ini disebabkan oleh banyaknya UX wannabes yang mempunyai Narcissistic Personality Disorder (NSP)?

The Evil Queen

Saya membaca sebuah postingan Facebook di komunitas dan sebuah weblog mengenai UX beberapa tahun yang lalu. Pada intinya, tulisannya merefleksikan fenomena psikologi “Narcissistic Personality Disorder” oleh yang posting dengan gejala-gejala sebagai berikut:

  1. Kemarahan (Rage): Seorang Narsis tidak bisa mentoleransi perubahan di lingkungan (Indonesia) yang dapat membuat harga dirinya tidak stabil.
  2. Rendah Diri (Weak Sense of Self): Seperti Sang Ratu di cerita Snow White, seorang Narsis selalu melihat kaca dan bertanya-tanya untuk mendapatkan umpan balik yang menguatkan bahwa dirinya masih berharga.

Apa sih isi postingan-postingannya?

  1. Seorang Narsis merekomendasikan sebuah agensi UX di Indonesia yang menurutnya kredibel dalam sebuah postingan Facebooknya. Beberapa saat setelah itu, dia kemudian mempertanyakan postingannya sendiri dengan bertanya kepada komunitas mengenai informasi vendor UX yang kredibel di Indo. Entah seorang Narsis ini punya ingatan pendek, cuma caper atau dapat kick-back dari agensi ini. Yang pasti, nggak jelas banget deh. Update: Si Narsis ini sudah pindah kerjaan dua kali dalam dua tahun terakhir ini. Btw, kenapa nggak pindah kerja ke agensi UX yang menurutnya kredibel ya? (wondering …)
  2. Seorang Narsis yang lain menyombongkan dirinya sebagai yang paling benar dalam mendefinisikan UX, dan menganggap yang tidak punya “pendidikan formal” UX sebagai orang yang salah kaprah. Update: Si Narsis ini sekarang pengangguran terselubung “Freelance”.

Mirror, mirror on the wall, who in this realm is the fairest of them all? (Snow White 1812)

Apakah kesamaan dari kedua Narsis di atas?

  1. Mereka lulusan luar negeri yang baru bekerja di (pasar) Indonesia dalam jangka waktu kurang dari 8 tahun. Dapat dimengerti bahwa sebagai wannabes yang ingin eksis di dunia UX Indonesia, mereka merasa superior dibandingkan kebanyakan orang-orang Indonesia yang kebanyakan tidak punya kesempatan seperti mereka. Hal ini mereka ekspresikan antara lain dengan:
    a) Postingan yang mengekspresikan kekecewaan mengenai situasi Indonesia (politik dan kebudayaan) di Indonesia;
    b) Menjelek-jelekkan pendidikan UX di tingkat universitas Indonesia yang menurutnya terlambat memberikan pengenalan mata kuliah yang berhubungan dengan UX;
    c) Merendahkan lingkup pekerjaan desainer di startup Indonesia, dengan anggapan bahwa lingkup pekerjaan desainer terbatas dan tidak pantas dianggap sebagai seorang praktisi UX (yang holistik).
  2. Mereka suka memakai asumsi dan asal omong. Misalnya dengan sok tau menyuruh mengecek lowongan-lowongan pekerjaan di perusahaan startup kelas dunia (Omong-omong, Facebook bukan startup) sebagai acuan pekerjaan seorang desainer. Saya yang sudah bertandang ke Facebook Inc. HQ di Menlo Park, US dan berbincang-bincang dengan tim UX-nya, tidak melihat dan tidak mendengar solusi-solusi konyol di bidang riset dan desain yang ditulis oleh sang Narsis tersebut.
  3. Mereka suka memberikan semangat (koar-koarnya doang), tapi sebenarnya mempunyai tujuan untuk merendahkan. Kira-kira isinya seperti begini: “Ayo jadi ahli UX di Indonesia, tapi elo ngaca dulu dung sebelumnya. Lihat gue nih yang baru kerja di sebuah startup di Indonesia beberapa saat aja, lulusan sekolah khusus UX etc. sudah ikut memajukan UX di Indonesia sebagai “ahli UX” di Indonesia.”

Bagaimana tetap positif belajar UX?

  1. Jadilah sebagai bagian dari solusi, bukan masalah. Masalah di Indonesia sudah cukup banyak dan kompleks. Fokuslah untuk menjadi yang terbaik dalam memberikan solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut.
  2. Nggak usah nunggu bully online di dunia maya, karena sudah banyak bully-bully di dunia nyata. Jadi “Keep calm and stay awesome”. Maju terus dengan belajar UX.
  3. Sesering mungkin menggunakan berbagai cara untuk belajar UX sesuai dengan kemampuan dan pengalaman pribadi. Bisa baca tipsnya di: 10 Cara untuk Belajar UX.

As a Google Mentor and Certified Design Sprint Master, Josh has a passion for the design, development, and use of ICT in solving business and humanity problems

As a Google Mentor and Certified Design Sprint Master, Josh has a passion for the design, development, and use of ICT in solving business and humanity problems